Jakarta adalah ibu kota super sibuk karena hampir segala kegiatan berpusat di sini. Namun, berkegiatan di Jakarta sungguh jauh dari rasa nyaman apalagi saat berkendaraan, berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain. Kemacetan merajalela, kami terpaksa menghirup polusi udara yang tak kalah menyebalkan.
Asap (emisi) melalui knalpot kendaraan bermotor merupakan penyebab terbesar polusi udara di Jakarta. Menurut data samsat terkait penerbitan STNK, jumlah kendaraan di Jakarta bertambah 5500-6000 unit setiap harinya. Itu artinya, produksi asap juga semakin bertambah, bukan hanya dari kendaraan angkutan umum yang tak terawat tapi juga dari mobil pribadi. Belum lagi kendaraan dari luar kota yang hilir-mudik ke Jakarta juga turut berkontribusi.
Keadaan semakin menjadi-jadi karena adanya sampah yang tidak dikelola dengan baik dibuang begitu saja, menumpuk dan membusuk, lalu menimbulkan bau menyengat. Ditambah lagi, pembakaran sampah rumah tangga. Proses pembakaran sampah walaupun skalanya kecil sangat berperan dalam menambah jumlah zat pencemar di udara terutama debu. Ruang terbuka hijau yang semestinya bisa menjadi pengendali polusi udara, berganti dengan deret bangunan. Sebelumnya lahan kosong jadi tempat hidup pohon, kini jadi hutan beton. Berbagai solusi coba ditempuh, tapi tak mudah. Semua keluhan dianggap biasa, lalu menguap terbawa angin. Daripada mengurus keluhan, lebih baik mencari cara untuk bertahan. Karena terus berulang, (mau tak mau) semua jadi terbiasa. Akhirnya, semua harus diterima. Mungkin ini semua adalah nasib yang sudah digariskan untuk kami, warga Jakarta Megapolutan.
Foto dan Teks : Hana Sayyida