Trah Wangsa Bharata


Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria
Photo : Gama Satria


Tombak kecil milik Adipati Karna yang menembus dada Gatotkaca itu langsung menghempaskannya ke tengah-tengah Padang Kurusetra. Gatotkaca pun gugur! Fragmen paling terkenal dalam kisah epik Bharatayudha ini menjadi puncak dari perseteruan antara Kurawa dan Pandawa.

Pentas kisah perang dua keluarga yang termasuk dalam Wangsa Bharata tersebut berkebalikan dengan para pementasnya, yaitu Wayang Orang Bharata. Satu-satunya kelompok kesenian wayang orang yang masih tersisa di Jakarta ini merupakan keluarga besar yang harmonis. Mereka berjuang bersama-sama untuk dapat terus menghidupkan kesenian khas Jawa Tengah tersebut di gedung pertunjukkan yang terletak di bilangan Senen, Jakarta Pusat.

Kelompok seni yang didirkan pada tahun 1972 ini sempat mengecap masa-masa keemasan antara 1975 hingga akhir 1990-an. Pertunjukkan yang dahulu setiap malamnya selalu dipenuhi penonton itu pun kini hanya tampil pada sabtu malam. Problematika tidak hanya terdapat pada animo masyarakat, para pemain yang merupakan pendiri Wayang Orang Baharata pun sudah beranjak uzur.

Hingga kemudian Marsam, Ketua Paguyuban Wayang Orang Bharata mengumpulkan seluruh anak-anak mereka. Ia mengajak anak-anak muda tersebut untuk turut melestarikan kesenian wayang orang dengan ikut berpentas. “Pemain wayang itu berbeda sekali, kalau mencari sarjana itu puluhan ribu, tetapi kalau mau mencari pemain wayang itu sangat susah,” keluh Marsam.

Keputusan Marsam yang akhirnya didukung oleh anak-anak mereka itu bukan tanpa perhitungan. Para pemain wayang orang harus banyak melakukan improvisasi ketika berpentas. Yang ada hanya gambaran tiap babak, tanpa naskah sama sekali. Kebiasaan anak-anak tersebut yang kerap melihat latihan dan penampilan para orangtuanya pun menjadi bekal tersendiri. “Barangkali sudah menjadi kehendak Tuhan, pemain-pemain sekarang ini turun temurun dari yang terdahulu,” ujar Marsam.

Atau mungkin sebenarnya tidak ada orang luar yang mau untuk bermain di W.O. Bharata. Mengingat pengertian “profesional” ditunjukkan pada saat latihan dan pementasan semata, sementara imbalan yang didapatkan jauh dari kata tersebut. “Di sini kami berjuang untuk melestarikan wayang itu sendiri. Silahkan mencari nafkah di luar pada hari-hari lainnya, kita hanya butuh satu hari saja untuk pementasan,” jelas Marsam.

Foto dan Teks : Gama Satria

error: Content is protected !!