Tradisi Melayangan Pulau Dewata


Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA
Foto : Saeful Muhammada .Q/ARKAMAYA


MelayanganSiapa yang tak kenal pesona Pulau Bali, keindahan alamnya dan keramahan penduduk lokal membuat para pelancong jatuh hati dibuatnya. Dibalik keanggunan alamnya, masih kental tradisi dalam kehidupan masyarakatnya, satu di antaranya ialah bermain layang-layang. Setiap tahun menjelang pasca panen, para pelayang berkumpul dan bergelut dengan bambu. Dalam tradisi masyarakat bali menerbangkan layangan atau “melayangan” merupakan bagian dari sebuah ritual dan ada  pakem yang menjadi pertimbangan bagi seorang “undagi”, sebutan ahli pembuat layang-layang di Bali.

Buah karya imajinasi yang dapat meliuk-liuk indah di angkasa itu, dipercaya memiliki tulang dan organ tubuh selayaknya manusia, bahkan memiliki roh. Masyarakat bali meyakini di dalam kerangka layangan terkandung Jiwa perwujudan Rare Angon, dewa pelindung areal persawahan dari hama maupun burung. Tak hanya menjelang pasca panen, masyarakat Bali pun masih kerap menerbangkan layang-layang. Perbedaan usia tak jadi batasan untuk menerbangkannya. Hingga kini, para orang tua senantiasa menyalurkan kepiawaiannya merakit layangan pada generasi penerus. Pertukarang berbagai macam budaya yang singgah di Pulau Dewata Bali bukanlah sebuah ancaman kelestarian para pelayang. Namun, yang mengkhawatirkan ialah makin berkurangnya lahan bermain para pelayang. Hingga saat ini hanya tersisa dua lokasi bermain layangan di Sanur.

Foto dan Teks : Saeful Muhammada Q/ARKAMAYA

 

error: Content is protected !!